Tuesday, November 26, 2013

Trip ke Cambodia

Minggu lalu, tepatnya 2-6 November 2013 gue berkesempatan buat jalan-jalan ke Cambodia. Yay, salah satu dari list negara ASEAN gue bisa dicoret deh. Yihiiiy...
Dibawah ini beberapa hal2 penting (menurut gue sih, belum tentu penting menurut orang lain :)) tentang jalan2 ke Cambodia :

1. USD dimana-mana
Mata uang di Cambodia adalah Riel, nilainya sekitar 2,6 kali Rupiah. Jadi kalau 100 Riel, nilainya adalah Rp 260. Nah, tapinya, selain Riel, mereka juga sangat welcome sama USD, terutama buat turis.  Disatu sisi itu nyenengin karena jadi gampang, tapi disisi lain, jadi berasa mahaaal, soalnya apa2 minimal 1USD. Naik Tuktuk (semacam bajaj) bayarnya 2-3 dollar untuk jarak dekat kan jadi berasa mahal. Soalnya nawarnya juga ngga bisa 2,5 Dolar, pasti ngepas 2 ke 3 dolar.

2. Wisata Candi
Jalan2 ke Cambodia, ada dua jenis lokasi yang sudah pasti didatangi para turis. Wisata Candi (Angkor Wat  dan saudara2nya) di Siem Reap dan Lokasi Killing field plus Genocide museum alias napak tilas PolPot di Phnom Penh.

Phnom Penh adalah ibu kotanya Cambodia, sementara Siem Reap merupakan kota Wisata yang lokasinya ada sekitar 6 jam perjalanan darat ke arah utara.  Setiap hari ada bis2 yang melayani rute untk kedua kota ini, bahkan ada pula bis malam (sleeping bus)  Perjalanannya lumayan, maksudnya lumayan bikin bokong pegel, karena jalan antar propinsi mereka banyak yang grundel-grundel, jadi berasa kaya dilempar2 diatas kursi.

 Jalanan menuju Siem Riep, ada yang aspalnya sampai terkelupas parah giniiii

Mulai dari Wisata Candi ya :  
Angkor Wat dan teman2nya adalah kompleks situs yang lumayan besar, terawat dan beberapa situsnya keren2.  Buat gue, situs yang 'must see' adalah Angkor Wat (karena paling besar, megah) terutama kalau bisa dapetin sunrise disana.  Kemarin, gw (dan ratusan turis sunrise) yang pagi2 utuk2 datang dengan tuktuk (bagus ya rimanya) ngga beruntung karena sunrisenya tertutup awan. Tapi masih kelihatan keren, so pastinya kalau sunrise sempurna-- jauuuh lebih bagus.

 Angkor wat dipagi hari, sayang sunrisenya ngga jelas, sayang juga kamera gw dodol
banyaaaak banget ya yang mau nonton sunrise di Angkor Wat. Semua subuh2 udah asik nangkring cari posisi strategis


Situs lain yang juga harus dilihat adalah Bayon (itu yang gambarnya ada di atas -- persis gambar sampul Tintin di Cambodia), Ta Phrom (tempat syutingnya tomb raider--menurut supir tuktuk sih :)) yang keren dengan banyaknya pohon gum alba yang "menguasai" candinya, juga Banteay Shrei : Candi asli Cambodia yang warnanya pink dan desainnya berbeda.  Candi terakhir ini lokasinya lumayan jauh dari candi2 lainnya.  Tapi karena cantik, ngga kerasa rugi disempetin kesana.


salah satu candi dengan pohon gum alba yang sudah "menguasai bagian dalam candi"

teras salah satu candi, kalau ngga salah ini terrace of leper king 

banteay shrei, candi woman citadel, batunya warnanya pink, dan ukirannya beda sama candi yang lain

Kalau mau ngerti bangeeet soal Cecandian ini, ada baiknya sebelum jalan ke komplek arkeologis, sisipkan sehari sebelumnya buat ke Angkor Wat National Museum di Siem Riep.  Museum ini keren banget, dan dijamin langsung ngerti sejarah tentang situs2 yang ada, plus nama2 para Raja pendirinya.


3. Killing Field dan Genocide Museum
Tahun 1975 -1979 adalah tahun2 kelam buat rakyat Cambodia.  Saat ini, Khmer Rouge atau Red Khmer menggulingkan kekuasaan dan berkuasa dengan sistem komunis di Cambodia.  Saat mereka berkuasa, ada sekitar 3juta orang yang mereka bunuh.  Sebagian karena orang2 itu dianggap berbeda pandangan politik, atau karena mereka adalah orang yang dianggap berbahaya.  Namun banyak juga yang tidak ada hubungannya dengan politik, namun dipaksa mengaku kesalahan yang mereka ngga pernah lakukan.  Yang mengerikan dari Khmer Rouge ini adalah mereka ngga sekedar bunuh lawannya, mereka menyiksa dengan kekejaman yang bener2 bisa bikin gue ngebayanginnya aja pingin muntah.

Ada banyak killing field di Cambodia, tersebar di beberapa daerah.  Namun yang paling banyak dikunjungi adalah Killing Field yang terletak 12km diluar kota Phnom Penh.  Walaupun secara nyatanya, yang kita datangi adalah hanya lapangan besar plus satu monumen berisi tengkorak para korban, namun, dengan bantuan cerita dari alat bantu pandu berupa headphone, suasana sedih, seram dan penjelasan mengenai kejadian tragis tahun 1975-1979 itu jadi terasa sangat jelas.  Mereka juga memberikan rekaman2 lagu2 sedih berbahasa Khmer, yang bener-bener membuat suasana napak tilas killing field berasa antara haru dan menyeramkan.

Ada 3 kalimat yang gw inget di area ini, dua berasal dari Rezim Khmer Rouge : "Better to kill an innocence man, than to spare an enemy alive", dan "if you want to kill a grass, you have to kill all the root".  Dua kalimat yang rada2 gila dan membenarkan kelakuan mereka membunuh secara massal.  Kalimat kedua lebih menyeramkan, karena membenarkan mereka untuk membunuh anak2 bahkan bayi, dengan alasan : supaya ngga ada yang balas dendam nantinya.  Kalimat ketiga adalah kata penutup di panduan : Alasan mereka untuk menyebarkan kepedihan killing field ini adalah, untuk memastikan tidak akan ada kejadian serupa terjadi lagi, dimanapun kapanpun.  Ini serem banget buat gue, karena kejadian di Cambodia ini kan cuman gara2 1 orang gila yang namanya Polpot yang bisa menyebarkan kegilaannya ke banyak pengikutnya.  Bayangin kalau ada orang gila serupa ini lagi. Serem.

Genocide Museum (Toul Sleng) merupakan ex tempat penyiksaan tahanan, sebelum mereka dibawa ke killing field untuk dibunuh.  Disini dipasang aneka peralatan yang tadinya digunakan untuk menyiksa tahanan. Juga foto2 tahanan yang nelangsa2 sekali.  Disini, entah kenapa gue ngerasa mual, dan nyium bau darah.  Sedih plus serem semua campur aduk.

kumpulan tengkorak di Killing Field, syerem ngga sih....

4. Hotel dan kesiapan departemen Pariwisata Cambodia
Menurut gue, pemerintah Cambodia sangat berniat untuk memajukan kepariwisataan mereka.  Daerah Siem Riep sebagai daerah wisata Situs Arkeologi bener2 dipromosikan dan dirawat rapi.  Daerah Sisowath dengan pinggiran sungai mekong yang ditata rapi juga terlihat menarik buat wisatawan.  Walaupun secara umum dibanding Indonesia, Cambodia masih kelihatan ketinggalan, tapi daerah wisatanya kelihatan sudah lebih ditata rapi.  Salah satu buktinya adalah : WC umum di tempat wisata, semuanya bersih!

Yang gue juga suka adalah daerah promenade sungai di Phnom Penh, Trotoarnya lebaaaar banget, bersih, dan asik buat jalan2 sore.  Sungainya juga bersih dan ngga berbau. 

jalur hijau promenade di sisi sungai mekong, bersih, lebar, nyaman)

Untuk Hotel, ini juga kelebihan Cambodia, terutama Siem Riep. Hotel2nya murah dan bagus! Di Phnompenh hotel bagus dengan kamar yang sangat bersih (gue menginap di 1upbanana dan the terrace on 95) bisa didapatkan dengan 40USD.  Untuk 50USD, gue udah dapetin kamar yang cantik eks rumah Prancis masa lalu. Di Siem Riep, bahkan dengan 17USD (tanpa sarapan-Golden Temple Villa), gue udah dapetin kamar plus layanan free massage, free rental bike.  Plus receptionistnya bener2 sangat ramah, dan 'hobby' ngebantuin kita untk bisa dapetin paket wisata/bis/apapun dengan harga dan nilai terbaik.
salam dari golden temple villa - siem reap.  Murah tapi keren banget ini hotel, pelayanannya tob markotob..

5. Or kurn, Luk Lok, Amok, Warung Bali
Or Kurn artinya terimakasih. Satu2nya kata Khmer yang gue bisa ucapin.  Tapi berguna banget buat disenyumin, plus diajakin ngobrol sama orang2 sana.

Luk Lok dan Amok adalah makanan khas Khmer yang bolak balik gue makan.  Luk Lok serupa tumis daging dengan paprika, sementara Amok serupa opor, namun berasa kuat dengan rempah2 seperti sereh, daun jeruk dan jahe.  Bukannya menggunakan santan, mereka menggunakan telur untuk kuah Amok.

nasi dan amok. mirip opor kan?

Sebagai orang yang ngga bisa makan bebabian, hidup gw agak susah juga, soalnya kan gue juga ngga terlalu suka makan makanan arab, dan kayaknya ngga pas gituloh, makan makanan arabic di Cambodia.  Ngga Cucok.  Ya, mesennya ayam atau daging aja (walopun ada pilihan pork juga sih--- tapi merem ajalah :)) 

Nah, pas jalan2 di Phnom Penh tepatnya di 178 street deketnya National Museum,  seneng banget nemu restoran Indonesia, namanya WARUNG BALI.  Yang menyenangkannya, rasa makanannya enaaak. Indonesia banget! Pemiliknya, 2 orang Indonesia (kalau ngga salah namanya Pak Laksmi dan Pak Yudi) yang sudah tinggal 15 tahun di Cambodia. Masakannya juga termasuk murah dibanding resto2 lain di area sekitar National Museum ini. Kalau di tempat lain sekitar 12-14 USD buat berdua, disini buat makan pake 2 lauk dan satu sayur (terung balado, ayam goreng kremes, ayam balado) cukup 8 USD aja.
Pak pemilik restonya juga ramah dan asyik buat diajak cerita.  Mau niat makan 15 menit doang, akhirnya kita betah sejam di resto ini karena ngobrol ngalor ngidul.  Ngga disangka juga ternyata daerah rumah Pak Laksmi di Jakarta juga di deket2nya Cileduk Raya... hehe jauh2 ketemunya tetangga jugaaa...

6. Shopping
Shopping di Cambodia lumayan menyenangkan, karena barangnya banyak yang lucu2.  Harganya tergantung kekuatan nawar, terutama kalau dipasar.  Di Cambodia, ada dua jenis suvenir.  Yang satu suvenir standar yang bisa didapatkan di pasar2, lainnya adalah barang2 yang dibuat oleh NGO atau LSM.  Lumayan banyak LSM yang bekerja membantu rakyat Cambodia, ada uang membantu korban trafficking (Daughter of Cambodia), ada yang korban landmine (Ta Phrom), ada yang anak jalanan (Friends), juga ada yang mengurangi sampah plastik (Smateria).  Semua hasil karyanya bagus2, bikin bingung milihnya. Street 178 adalah satu jalan yang bisa ditelusuri buat nemuin toko2 kecil berisi barang2 lucu mereka.

Untuk Pasar, di Phnom Pehn ada Central Market dan Russian Market yang sering didatengin para turis. Karena masalah waktu, gue cuman bisa ke Russian Market, pasar suvenir murah meriah buat oleh2.
Di Siem Riep, adal lebih banyak pasar yang banyak suvenir. ada Old Market (Psar chai), dan banyak Night Market (Art Night Market, Night Noon Market, Angkor Night Market), tapi yang paling gue sukai adalah Angkor Night Market karena pasarnya punya karakter. Lokasinya ada di belakang golden temple villa.  Bagian dalamnya lantainya dari baru2 kerikil kecil, beda deh sama pasar malam lainnya.  Barang yang dijual bukan produksi massal, tapi banyak yang hasil karya seniman2 Cambodia. Oya, semua penjual di Pasar2 ini sering berwajah jutek kalau lagi ngatur2 barang.  Tapi begitu diajak ngomong, baru deh cerah ceria... Suka colek2 demi bikin kita nambah belanja juga..

7. Politik dan Supir Tuk Tuk
Di Cambodia, kalau ngga salah baru aja ada Pemilu, dan kelihatanya partai incumbent menang lagi.  Nah, secarra umum kelihatannya golongan rakyak kebanyakan mencurigai bahwa ada permainan di hasil pemilu ini. Ngga tahu deh bener apa engga. Yang jelas, saban naik tuktuk atau taksi, passsti deh diajakin ngobrol soal politik, korupsi dll dsb.  Agak berasa seperti di Indonesia jaman sebelum reformasi (pengen deh gw bilangin ke mereka, udah pak, nanti kalau partai yang lo ngga suka diganti sama partai lain, sama aja kok korupsinya... ngga usah berharap terlalu banyak, nanti kecewa :)).  Yang bikin gw kaget adalah mereka bener2 SUKA ngajakin ngobrol politik.  Mungkin level kecewanya sudah tinggi banget atau kenapa ya? soalnya kita kan orang asing yang pasti cengar cengir ga karuan doang kalo diajakin ngobrol gitu.

Oya, secara umum naik tuktuk aman di Cambodia, supirnya juga sopan dan ramah. Yang penting kita harus berani nawar. Jarak deket 1-2 USD, jarak jauh 3-4 USD.  Kalo kita nawarnya kerendahan mereka suka bilang : I have to give food to my family, madam. Hehe, jadi ngga enak deh nawarnya.  Terus, kalau naik tuktuk, pastiin tas ditaruh di tengah kursi.  Menurut para supir tuktuk, pernah ada masanya banyak penjambret yang nyolong tas dari dalam tuktuk sementara mereka naik sepeda motor, ngga bisa kekejar, soalnya tuktuk jalannya alon2 asal kelakon...

8. Debu n Masker
Kalau ke Cambodia, jangan lupa bawa Masker (atau beli juga banyak sih, 500 riel aja), soalnya debunya paraaaah, terutama di jalanan luar kota (menuju killing field).  Pak Tuktuk yang kami sewa, ampe beliin masker pas lihat kita batuk2 sama debunya.  Kalau Jakarta dibilang polusinya parah, kota ini bahkan susah napas karena debu-an banget.

sedia masker sebelum batuk2 kena polusi debu

Itu dia 8 point yang gue paling inget tentang Cambodia.  Ada sih beberapa hal lain, seperti banyaknya monk aliyas biksu, juga pertunjukan tarian rakyat di Museum National yang asik buat ditonton malem2... Tapi itu nanti ya... udah kepanjangan iniiii :)

Friday, August 16, 2013

Hutan Bakau PIK

Liburan lebaran kemarin, bosen juga jalan ke Mall melulu....
*Haha, iya sebagai orang Jakarta, mau kemana lagi selain ke Mall?

Tiba2 teringat saran Titi, teman di kantor tentang tempat wisata hutan bakau di PIK.

Dan akhirnya disuatu  hari Selasa, hari terakhir libur lebaran, kita akhirnya memutuskan "jalan-jalan santai" ke sana.  Jalan2 santai disini, artinya berangkatnya siang2 (jadi ngga buru2, dan sempet leyeh2 dulu dirumah dan nonton tipi bareng2) da ngga punya banyak ambisi selain pengen kesana dan liat tempatnya.  Kalau ngga nemu, ya balik lagi aja... ngga ambisius gitu deh.

Lokasi Hutan Bakau ini ternyata dekat banget sama waterbom PIK.  Tepat dibelakangnya Yayasan Tsu Chi, dan dekat juga sama ruko2 makanan bergaya alfresco.  Biaya masuknya cuman 10 ribu buat orang dewasa, 5 ribu buat anak2 dan  5 ribu lagi buat mobil.  Nah cumannya, untuk kamera, ada biaya 1juta untuk 7 orang (pergrup).  Harusnya ini cuma buat kamera profesional dan untuk kepentingan komersil aja kali ya? tapi ternyata engga tuh, semua kamera, kecuali HP, harus bayar.  Agak aneh, menurut gue...

Lokasinya bakal menarik buat yang suka sama kegiatan alam.  Ada tempat untuk berkemah (baik tenda maupun lokasi permanen), Ada wisata air (alias naik perahu menyusuri hutan bakau) dan ada juga area outbond.

Lokasi berkemahnya lumayan lucu.  Ada kamar2 kecil berbentuk segitiga ala kemah berjejer rapi di pinggir hutan bakau.  Kelihatannya disiapkan untuk rombongan. ---Karena tempatnya lumayan sepi, ngga kebayang sih kalo mau nginep sendirian, malam2 gue bakalan super ketakutan :)---
Lokasi berkemah di pinggir hutan bakau.... tenaaang, sepiiii.... tapi ngga tahu, panas apa engga ya?

Buat Rangga, yang paling menyenangkan tentu lokasi Outbond. Dia sibuk bermain di jembatan jala2 sambil sibuk mengajak adikknya

Rangga dan keasyikannya main jala-jalan dan dan menelusuri jalan menuju pantai

Wisata air alias naik perahu keliling hutan bakau, menurut gue jadi bagian yang harus disempetin kalau berkunjung ke sini.  Untuk naik perahu bermesin 8 orang, biayanya Rp300ribu, sementara 6 orang Rp200ribu.  Kalau perahu kayu bermesin, Rp 150ribu, sementara perahu dayung/Kano Rp 50ribu. Semua untuk waktu sekitar 45 menit. 
Rangga, memilih perahu bermesin yang dikemudikan oleh pak penjaga hutan.  Perjalanannya menyenangkan, terutama karena kita disetirin, dan si pak penjaga hutan ini hapal sekali lekak lekuk hutan bakau, jadi rasanya kaya menyelusup kebawah pepohonan.  Si bapak juga memberhentikan perahu beberapa kali untuk memberi kita kesempatan mengagumi satwa liar yang ada disana seperti biawak, dan aneka burung.  Yang hebat juga disini adalah : ngga ada bau amis/bau ngga enak di area hutan bakau ini.  Udaranya segaaar, plus semilir angin semripit, bikin asik buat berperahu disana.

Pemandangan sepanjang perjalanan wisata air, Yayasan Tzu Chi di kejauhan bikin kelihatan jadi ngga kaya di Indonesia.  Dibanding wisata susur sungai di Vietnam, gue milih wisata air ini banget.... jauh lebih bagus pemandangannya....



Setelah dari wisata sungai, kita bisa berjalan2 terus menuju pantai.  Pantai disini memang bukan pantai berpasir sih, hanya tempat duduk2 ditepian laut.  Tapi perjalanan kesananya asyik.  Kita berjalan diatas jembatan panjang dari kayu, ditengah2 hutan bakau. Disana-sini ada beberapa tempat duduk dan beristirahat.  Adventorous, yet kerasa romantis. 
Sayangnya, ya, apalagi kalau bukan sampah.  Walaupun banyak tempat sampah tupperware (ini sponsor hutan bakau ya?) dimana-mana, sayangnya di pinggiran hutan bakau, banyak sampah plastik seperti botol  minuman, sendal, kantong plastik---dan bahkan tas wanita, nyangkut di sana.  Mungkin itu sampah yang terbawa oleh aliran air ya? bukan oleh para wisatawan.

Las but not least, ketika jalan kembali ke depan, ada taman kecil bernama taman kelinci.  Didalamnya ada 2 tempat tidur ayun, plus sekitar 10 kelinci yang gemuk dan lucu.  Masuk kedalamnya Rp2000, dan didalamnya bebas bisa mainan sama kelinci, or tidur2an dibawah pohon.  Rio, super asyik ngejar2 dan ngelus2 kelinci disini.  Gw yakin, ini bagian paling menyenangkan buat dia dari perjalanan wisata hari ini.

Oh ya, menurut Indra, mesjidnya juga bagus, dibuat dari kayu2 dengan tiang tengah yang besar dan megah.  Sayangnya, karena gw ngga lagi sholat, gw ngga ngeliat sendiri gimana bagusnya mesjidnya itu.

Jadi, point gue buat tempat ini di angka 8 lah.  Suka sama konsep tempatnya, terutama karena tempat ini membuktikan bahwa hutan bakau yang dirawat ngga cuma sekedar jadi tempat yang berguna untuk ekosistem dan alam, tapi juga bisa jadi tempat wisata kita.  Suka sama situasinya yang cukup bersih (tapi akan lebih baik kalau mereka juga bersihkan sampah2 yang kebawa masuk). Suka Sama ke-belum ramaiannya (compare sama ragunan dihari minggu, ini sepiiiii banget).

Yang gw ngga suka adalah peraturan bahwa SEMUA kamera harus bayar kecuali HP.  Sebagai pemegang kamera murahan, gw ngga terima banget.  Lha HP banyak yang lebih bagus kualitas gambarnya aja ngga bayar, masa iya kamera harus bayar ngga pandang bulu. Kayaknya peraturannya harus lebih dibenerin atau distandarkan dengan lebih jelas deh.  Kamera dengan skala berapa, yang bayar.  Atau bagaimana deh mereka mengecek bahwa pemotretannya buat komersial atau sekedar gambar personal, kan keliatan bedanya...

Tapi... overall, tempat ini recomended buat jalan2 sekeluarga terutama kalau lagi bosen atau alergi sama mall :)

Salam dari PIK!

Sunday, July 14, 2013

Ditengah Keriaan Ulang Tahun Jakarta


Beberapa tahun yang lalu, tepatnya 2009 akhir-saat gw berlibur ke Vietnam, gue pernah terjebak di keriaan massa Vietnam yang sedang merayakan kemenangan mereka masuk semi final sepakbola SEA GAMES.

Gw terjebaknya tepat di tengah kota di depan pasar Ben thanh. (Boleh cek tulisannya beberapa post dibawah kalau iseng)

Saat itu gue bertanya2... kapan ya gue bisa rame2 ada di keramaian kaya gini juga... tapi di Jakarta. Entah kenapa saat itu rasanya ngga mungkin banget deh gue bisa nyangkut di Bunderan HI, kayaknya itu daerah yang ngga bersahabat buat manusia jalan kaki dan ketawa2, lebur sama keramaian, tapi situasinya asyik, aman dan nyaman. Ngga Jakarta banget di kepala gw saat itu. Ngga mungkin lah....

Bulan lalu, tepatnya 22 Juni kemarin... gue berhasil menjalankan cita2 kecil itu. Ulang tahun Jakarta, dan Jokowi bikin pesta rakyat di Sudirman Thamrin.

Entah kenapa, gw yang biasanya males banget ikutan acara2 gini (Tahun baru dll-- biasanya ada kan keramaian di HI? gue memilih buat tiduur, atau paling nonton TV dirumah), bener2 pingin join. Mungkin sugesti nama Jokowi, mungkin kata pesta rakyat, atau malah judul acaranya : Malam Muda Mudi (hehehe--gue bangeeet niih)

Gue memilih untuk parkir mobil di GKBI dan jalan kaki ke arah Monas. Tidak akan ke panggung Monas, karena pilihan artisnya terlalu mainstream (hahaha--bukan deng, ngga mau sumpek2an aja). Gw juga ngga bawa anak gw dengan alasan takut ternyata chaotik, rame dan ngga family friendly. So berdua aja, sekalian pacaran huhuyy....

Yang asik adalah, gue suka banget sama suasana malam itu. Panggung berdiri berjarak 1km an, dengan pengisi acara yang beda2, jadi asik strolling jalan Sudirman-Thamrin melihat satu demi satu panggung. Yang paling asik juga adalah : Suasananya ramah. Gw banyaaak banget ketemu keluarga dengan bayi berstroller, dan orang tua berkursi roda yang menikmati malam itu. Orang tersenyum, dan ibu polisi wanita tertawa bersama. Berasa banget sebagai sama2 manusia Jakarta yang sedang bersuka ria bersama-sama. Agak nyesel ngga bawa Rangga (walaupun tahu juga sih, kalau bawa, gw bakalan berkutat sama keluh kesahnya dia kecapean dan minta gendong -_-*). Perasaan nyaman ditengah keramaian massa ini, yang ngingetin gue sama perasaan yang gue dapetin di tengah keriaan massa bola Vietnam itu. Rame! tapi semua orang happy!

Beda kota, beda tahun. Sama feelingnya, dan sedikit lebih kurus :)

Yang gue juga suka adalah : Pengisi acaranya selalu berulang2 mengingatkan orang2 untuk menonton tidak di area taman : 'Baaaang, Neeng, nontonnya disini, dijalan, jangan di taman! itu taman dari pajak kita lho! bikinnya mahal, sayang uang kita! ayooo kesini, jangan sampai rusak, kasian lho Pak Jokowi udah rapiin kita berantakin'. Dan orang2 pun menurut... maju dan ngga menginjak rumput taman. Lagi, menurut gue, nama Jokowi berperan besar buat bikin orang2 bergerak.


Oh ya, gw juga suka banget sama bangku2 yang diletakkan di pedestrian. Bukan cuma bikin gw yang kecapean jalan kaki jadi punya tempat untuk beristirahat, tapi juga bangku2 itu bener2 berguna untuk buat Jakarta jadi tempat yang jauuuuh kelihatan lebih ramah dan bersahabat.


di Saigon nongkrongnya di pinggir jalan, di Jakarta, di bangku pinggir jalan doong

Selain musik dan kegiatan hura2, panggung juga dipakai buat sosialisasi monorail. Gara2 nongkrong di acara ini, gw jadi tahu panjangnya monorail, ada berapa line, ada berapa stasiun, dan kapan Jokowi ke Singapura buat uji banding (Maret 2013! dan sekarang proyek udah jalan---10 tahun yang lalu pada ngapain aja ya?)


So far, gw suka deh sama Gubernur yang satu ini... Kelihatannya semua yang dia lakukan arahnya beneran buat kesejahtraan rakyat :). Jangan pengen jadi Presiden dulu ya Pak... rapiin Jakarta duluuu :).

Malam itu gue pulang dengan hati senang, membayangkan Jakarta yang akan punya harapan, jadi lebih baik. Jadi lebih modern, rapi dan ngga malu2in. Hmm, semua beneran kejadian ya

Next wish : Kapan yaa di Jakarta gue naik MRT pulang kantor?

Thursday, July 04, 2013

Rina di Sosialita

Di suatu pagi indah di Semarang pada bulan Desember, gw dan seorang teman kerja (sebut saja namanya Titi :)) berjalan2 di Lawang Sewu.  Gedungnya cantuik banget... plus sedikit serem, secara sempat dijadikan sebagai area penyiksaan di jaman Jepang.

Eh, tapi... tulisan gw ini bukan bakal membahas si Lawang sewu atau cerita horror didalamnya ya. Bukan... secara gw bukan ahli sejarah yang suka dan bisa bercerita panjang lebar tentang suatu gedung.

Jadi, si Titi suriti ini, adalah penggemar fotografi, dan seperti biasanya penggemar fotografi, dia pasti menjinjing kamera SLR dong kemana2. Nah, juga pasti dia butuh model dong buat motret memotret. Hehe, disitulah fungsi gw..sebagai model di Lawang sewu.

Dan, ternyata foto2nya lumayan lutuuu.. Dengan gaya yang sok2 manis imut gitu. Entah mengapa kita berdua tiba2 kepikiran tentang Sosialita-nya koran Kompas.  Tahu kan apa itu Sosialita? Rubrik di Kompas Minggu yang membahas sosialite Indonesia yang biasanya mbakyu2 ayu, kaya tajir, dan biasanya punya bisnis besar.

Nah, dengan foto2 ini, kita terpikir untuk buat Sosialito Rina, versi parodinya sosialita. Apa yang di parodiin? ya semuanya lah... Jelas2 gw ngga kaya2 amat, walaupun emang punya bisnis (kecil) dan ayu dong :).
Cara gw ngomong atau mikir juga jelas ngga mirip sama mbak2 sosialita ini... so, ngga nyambung semua deh..

ini dia hasilnya (tulisan karya Titi, so yaaa, emang gitu deh cara dia nulis :p)


Alien bernama keloid - 2

Duluuuu, beberapa tahun yang lalu (hehee tepatnya 3 tahun yang lalu), gw pernah menulis tentang keloid indah yang mengganggu gw, dan juga upaya2 apa yang gw lakukan untuk menghilangkan si keloid sialan ini dari dada indah gw (huhahaha)

Mulai dari di bekui-in, suntik, cica care (kalau mau baca lengkapnya, lihat di post tertanggal 25 Juli 2010 yah!). dan semua saudara2... tidak berhasil! Hehe, post tadi dapat beberapa tanggapan dari teman2 yang kebetulan nyasar ke blog gw ini, dan mostly nanya apakah berhasil--- dan minta diupdate tentang bagaimana akhirnya. Apakah dia berhasil dibunuh, atauuuu, kami malah justru menemukan kedamaian dan hidup berbahagia selamanya (heeh?)

Nah, posting ini menjawab semua rasa penasaran anda! Mau tahu? ayo terus baca (ok, mulai berlebihan, this is kaffein talking, not me :))

Jadi, setelah terus menerus diganggu rasa nyeri didada yang bukan disebabkan oleh patah hati maupun putus cinta, gw memutuskan untuk menemui dokter bedah untuk mengenyahkan si keloid ini.  Gimana engga, sering banget gw lagi asik2 kerja... atau bahkan lagi tidur, eh tiba2 ada nyeri didada seperti ditusuk2. Dan sebelnya, ngga ada yang bisa gue lakukan untuk menghilangkannya. Paling banter cuma menekan dada kencang2, berharap pelan2 sakitnya hilang.

6 bulanan yang lalu, gw ke dokter bedah pertama.  Konsul punya konsul, dia bilang bahwa bisa saja dihilangkan, tapi ngga janji kalau dia ngga balik lagi.  karena letaknya ada di area gerakan.  Selain gerakan tangan yang akan terus menerus menarik kulit bagian dada, juga gerakan napas, juga menggerak2kan area yang sama.

OK, ngga menarik. Plus pas buat janji bedah, ternyata di RS besar di daerah puri indah ini, operasi imut begini, harus dihitung sebagai rawat inap--so harus sewa kamar inap.  Dan harga sewa kamarnya saja sekitar 2 jutaan. Tindakan dll sebelum obat 6 jutaan.
Okesip, mahal ya?
Coba pakai asuransi?

Ternyata tindakan terhadap keloid dianggap sebagai tindakan estetika yang ngga dicover asuransi. Terus terang gw tergoda untuk menyumpahi si pengatur kebijakan asuransi untuk kena keloid. Lha, nyeri begini mana ada hubungannya sama estetik?, gw pengeeen banget dia ngerasain nyerinya... biar tahu, bahwa ini bukan masalah estetik. (Hmm, atau gw bikin class action aja ya! menggungat tidak di masukkannya keloid kedalam tanggungan asuransi! huh!). 

Pas gw minta tolong dokternya untuk kirimkan surat info mengenai nyeri --- so buat data asuransi diskusi-- wheladalah, surat si dokter ini kurang meyakinkan karena hanya 1 kalimat : Ibu rina mengalami rasa nyeri akibat keloid di dada. Duh, please deh dok, gw aja ngga akan yakin sama surat ini, apalagi asuransiii.

So, gagalah gw operasi.

Beberapa minggu lalu, entah ada wangsit dari mana, gw tiba2 berfikir. Hmm, kalau gw harus bayar sendiri, gw mau ke dokter bedah plastik aja ah. Pasti jahitannya lebih rapi, so sekalian bagus.  Cari2 info, denger2 justru di RSCM lah dokter2 paling bagus berkumpul.  Berangkatlah gw kesana.

Konsul dengan dokter Iman Susanto, komentarnya mirip2 : Keloid itu susah buat dihilangkan permanen.  Bedah sih gampang. Tapi bikin dia ngga balik itu yang susah.  Semua metoda yang ada-- suntik, salep, plester, ngga serta merta meniadakan kemungkinan keloid hilang setelah di bedah.  Radiasi, mungkin punya efektivitas lebih tinggi. Sayangnya juga efek sampingnya bisa lebih tinggi, bahkan bisa bikin kanker (Oh nooo!).

So, kalau mau ya ayo, tapi gambling ya...

Gw, karena lagi desperate langsung mau aja diajak judi keloid... yang penting sementara waktu gw bisa putus hubungan sama si keloid ini.  Bahkan ngga pake appointment, gw minta langsung dikerjain hari itu juga.

Sebelum operasi, gw dikasih salep kebal, supaya nanti pas disuntik bius lokal, ngga kerasa sakit (keloid jauuuh lebih sensitif dibanding kulit biasa, so tusukan jarum akan kerasa jauh lebih sakit).

Operasinya ternyata memang ngga lama, tapi jahit bekas lukanya yang luamaaaaaa. Menurut hotel harus hati hatiiii banget ngejahitnya karena kulit gw ngga boleh shock, and ngerasa bahwa dia luka, karena bakalan memicu keloid lagi nantinya.  Dokter juga bilang bahwa dia harus ambil sedikit jaringan lemak, untuk mempermudah menjahit luka (Gw sempet berfikir... lemak perut boleh juga dong sekalian :))
   
ini adalah si keloid yang sudah tergeletak pasrah dilarutan alkohol.  Kuning2 itu lemak gue looooh :) iyuuu banget yah

3 Hari setelah operasi, gw kembali ke dokter untuk buka plester. Ternyata punya ternyata, orang berbakat keloid seperti gw, itu agak semi2 mutan lho.  Kalau orang biasa butuh waktu seminggu untuk merapatkan luka dan cabut benang, gw cuma butuh 3 hari untuk membuat lukanya merapat.  Jadi, rencana buka plester langsung berubah jadi cabut jahitan.

Dibawah tuh gambar perubahan hari kehari setelah operasi. Sampai saat ini, setiap hari gw masih pake obat anti keloid untuk ngejaga agar si keloid ngga tumbuh lagi.  Bekas lukanya sih lumayan agak panjang kaya habis operasi jantung... Tapi, paling ngga sekarang rata dan ngga berdenyut2 lagi :)

Doain semoga si keloid ini ngga balik lagi yaaaa :)
Oh ya, btw di RSCM agak murah biayanya : bedah total : 3,09 juta, dan cabut benang + salep keloid : 650 ribu. Lumayan lah dibanding yang awal sekitar 8 jutaan diluar kontrol...



Friday, June 15, 2012

Halo Hola

Halo  apakabar,
baru sadar banget euy, blog ini udah dimatisurikan lama banget.
Mungkin gara2 adanya twitter, sehingga keinginan pingin bercuap2 udah dikeluarkan via twitter. Mungin juga karena gue semakin males nulis, ataaau, karena gue menua ya? jadi semakin bijak (nah yang ini ngga ada hubungannya tuh)

Berapa lama yang lalu gw berusaha punya internet di rumah. Harapannya biar bisa lebih akrab dengan buka laptop dan menulis setiap hari. Nulis apa aja, yang penting maupun ngga penting. Yang jelas, bukan yang bikin kepala pening, karena itu bukan area gue hehehehe..... Namun rencana mulia tinggallah rencana. Sampai internetnya dimatiin, belum ada satu post pun yang tertayangkan. Parah ya.

Hmm, mau nulis apa ya... mungkin harus dilist dulu disini.
- Gue pindah ke perusahaan baru, tempat dimana katanya happiness dipabrikkan. Kapan2 mungkin asyik buat menulis soal asiknya pindah kerja dan terkaget2 dengan cara baru bekerja di tempat baru
- Gue punya anak baru eh baru lahiran. Eh itu dah gue tulis ya? mungkin seru juga nulis tentang asyiknya kurang tidur gara2 ada bayi baru. Oh oh, atau asiknya meres ASI saat lagi penuh2nya (hohoho)
- Gue sejak cerita jalan2 ke Tasik, udah jalan kemana lagi ya? Oh iya, gue ke Ayyuthaya-kota penuh stupa di Thailand, mungkin perlu di upload ya gambar2nya (ceritanya udah mulai lupa). Terus sempet ke jatiluhur, sempet keliling Bali timur.  Kayanya asik untuk ditulis.
- Gue lagi bercita2 memulai bisnis baru gue.  Yang ini, gue baru mau nulis kalau semuanya udah jalan mulus, dan beneran profit. Kalo ngga maluuuuu :)

Haha, itu aja udah banyak ya.... Harus janji bisa diselesaiin dalam sebulan. Kalo ngga gue kudu mentraktir diri gue sebuah baju yang mahal banget. Hahahhaa, ini janji macam apaaaaa?

Monday, April 02, 2012

Bintang baru, Satrio Redana


28 Januari 2012
Bintang baru lahir :)
Ngga nyangka bahwa gw bakalan punya 2 bintang yang bersinar mengelilingi gw, setelah 3 kali inseminasi gagal, yang dilakukan setelah Rangga meminta seorang adik.
Keajaiban ini datang tepat 3 bulan setelah kegagalan inseminasi terakhir, juga sebulan setelah gw pindah ke kantor baru. Ngga pernah nyangka dia akan tiba2 hadir. Mungkin sudah saatnya, mungkin sudah masanya :)

Satrio Redana Narindra Budiaji
Satrio : Nama awal ini diberi oleh Rangga, sang kakak yang menemukan namanya pada sebuah sinetron anak (halah). Menurut dia, si adik harus bernama Satrio, tokoh yang menurutnya jagoan lagi pula pintar
Redana : Nama ini diberikan oleh teman2 di kantor, hasil utak utik pencarian nama dengan huruf R. Redana cocok dengan warna Red (warna kantor) juga bermakna kemakmuran. Terdengar juga keren hahaha. Redana juga merupakan perpanjangan dari kata Reda, versi keren dari Ridha atau Ikhlas. Versi aslinya, Ridho, walaupun artinya bagus, selalu mengingatkan gue akan penyanyi dangdut chubby berbulu dada lebat.
Narindra : Ini adalah sisi narsis orang tuanya. Narindra merupakan singkatan dari aNAknya RINa dan inDRA, huahaha. Tapi, nama ini mirip2 dengan Narendra, yang artinya orang yang dikaruniai
Budiaji : Nah, kalau naman ini adalah nama wajib yang kudu harus dipasang di keluarganya Indra, tepatnya nama Budi-nya sih, harus dipasang kalau mau diaku saudara :)

Selamat datang bayi Rio, baby Red, semoga hidupmu dikaruniai kebahagiaan selalu :)

Tuesday, October 04, 2011

Kenangan kami tentang Bapak Suparmo

Senang melihat banyaknya teman2 bapak semasa beliau masih bekerja yang sayang sama dia...
banyak sekali email, sms dan juga telepon yang memberi simpati, salam, dan juga cerita2 manis saat mereka masih bekerja bersama.
ini surat yang dikirimkan ani kepada milis teman2nya bapak. Sebagai jawaban atas semua atensi yang dikirimkan mereka.....

From: Tiara Rany
Subject: Kenangan kami tentang Bapak Soeparmo...
Untuk Oom/Tante Milist Owner, mohon bantuan untuk diposting.

Dear Oom dan Tante,...
Alhamdulillah 40 hari lebih sudah kami lewati tanpa Bapak.
Syukur kepada pemilik hidup bahwa insya Allah Bapak kembali kepadanya dengan segala kemudahan. Syukur bahwa kami yang ditinggalkan masih diberi kesabaran, keyakinan dan kekuatan untuk melewati saat-saat ini....

Walau sadar semua sudah digariskan sesuai rencana-Nya dan keikhlasan kami diperlukan untuk memudahkannya menghadap Illahi Robbi, rasa kehilangan itu tetap ada...

Kami memang tidak pintar menghadapi kematian, ini pengalaman pertama...karenanya, membaca tanda pun tak bisa....walau sudah pernah membaca tentang "tanda2 sejak daun kehidupan lepas dari pohonnya"...

Bapak juga tidak menunjukkan kesakitan sama sekali. Setelah dokter menyatakan Bapak terkena stroke pun, tidak tampak perubahan di mukanya. Bapak masih menanggapi ketika diminta menggerakkan kaki dan tangan....artinya kesadarannya masih penuh. Itu juga yang disampaikan dokter. Membuat asa di hati kami makin yakin Bapak akan sembuh.
Bapak masuk ICU bukan karena kondisinya kritis, tetapi karena berdekatan dengan jadwal cuci darah.

Di akhir-akhir usianya, Bapak sangat terkesan sampai menangis dengan perhatian dari teman-temannya. Syukur di malam terakhir hidupnya, kami semua, istri, anak dan menantu masih diberi kesempatan bertemu. Syukur, Peny yang tinggal di luar kota berangkat malam itu juga...Walau akhirnya hanya aku dan Mamah yang harus mendengar langsung pernyataan dokter dan mengambil keputusan melepaskan Bapak.

Sungguh bukan situasi mudah....sejak keluar dari ruang tunggu ICU karena ada panggilan dokter, aku terus memeluk Mamah dan membisikkan untuk ikhlas, apapun yang terjadi.....Disana berada pertama kali di ruang ICU jam 4 dini hari,..melihat Bapak yang sampai jam 1 malam masih stabil, kini tak berdaya dan tiada tanda kehidupan di matanya, dengan 2 perawat disisinya yang masih mengupayakan perubahan....
Mungkin bukan situasi mudah untuk kami, tetapi Insya Allah kemudahan untuk Bapak ketika berhadapan dengan saatnya.

Pengantaran Bapak ke pemakaman pun sungguh sangat dimudahkan. Bapak yang memang banyak bergaul dengan lingkungan, membuat semua orang tergerak membantu segala proses , yang mungkin tidak sempat terpikir oleh kami.

Terimakasih untuk Oom dan Tante yang selalu memberikan perhatian, bantuan baik moril maupun materil, bahkan sampai mengantar ke pemakaman. Terutama untuk Oom Daddy yang selalu memberi dukungan untuk Bapak.

Semoga tali silaturahmi kita tidak pernah terputus.
Regards,
Rany

Mengenang Bapak

Beberapa hari yang lalu, Bapak ulang tahun
harusnya usianya akan 66 tahun di tanggal 23 September itu,
tapi, Tuhan berkehendak lain, 14 May lalu beliau dipanggil oleh yang kuasa.



Hari itu-- 23 September pagi,
entah kenapa gue tiba2 teringat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya bapak,
ngga biasa2nya keingetan. Terutama karena di keluarga kami, Ulang tahun bukanlah hal yang dirayakan khusus. Paling2 kalo inget, ya kasih kado atau selamat, kalau engga, ya ngga papa...


Dan entah kenapa, pagi itu, gue tiba2 kangeeen banget sama dia. Kangen cela2an, kangen ditelpon dengan suara yang bikin panik, padahal cuman mau minta beliin susu doang, dan kangen ketawanya bapak..

Dan tiba2 ingatan melayang ke beberapa bulan sebelumnya, saat menjelang Bapak dipanggil...


Rabu - 11 May 2011
Setiap Rabu pagi, gue pasti bakalan berangkat kantor lebih pagi. Tugas gue adalah anter bokap ke tempat hemodialisa di Pati Unus. seperti biasanya bokap duduk dibelakang, sementara nyokap disamping. Bokap kayaknya lagi ngga enak badan, karena dia diem aja, ngga ikutan ngobrol, sementara gue da nyokap, ngobrol ngalor ngidul.


Pas turun dari mobil entah kenapa, gue iseng nengokin bokap yang baru aja turun dari mobil, dan sambil iseng gue teriak " daaaah bapaaaaak...". Bapak kaget, dan bengong sebentar, tapi sekejap kemudian, matanya yang sedari tadi kelihatan ngantuk, berbinar. Dan dia menjawab " Daaah Rinaaaa" sambil tersenyum.


Sorenya ketika gue jemput Rangga dirumah, mamah cerita kalau bapak seneng dipanggil tadi pagi. Gue sempet ngerasa terharu, bahkan cuman iseng gitu aja bisa bikin bapak seneng.



Jumat -14 May sore
Gue udah mau turun ke lift pulang ketika sms dari Ani masuk : Mbak Ina buruan ke RSPP, bapak jatuh, masuk RS..

Ketika gue datang kesana, bokap udah ada di meja pasien UGD. Kelihatannya sadar, tapi gue ngga yakin kalau dia masih ngenalin gue. Ketika kita panggil, dia bangun, tapi ngga menunjukkan tanda bahwa dia inget, siapa aja yang ada di sampingnya.
Malam itu kita sempat di RS, sampai bapak masuk ke ICU. Dokter menyatakan bapak stroke, stabil, namun ada pendarahan di otak yang harus di operasi. Setelah itu gue dan Peny pulang sekitar jam 9 an. Niatnya mau gantian sama Ani dan mamah yang nungguin bapak malam itu.
Malam itu, sebelum pulang, ada beberapa saat gue ditinggal berdua doang sama bapak. Anterin dia ke CT Scan, dan nungguin di ruangan. Entah kenapa malam itu, perasaan gue terbelah antara yakin bahwa bapak akan sembuh dan stabil (masuk ICU juga karena mau hemodialisa paginya, bukan karena gawat) tapi disisi lain, entah kenapa gue ngerasa bahwa bapak akan pergi kali ini.
Ini bukan kali pertama bapak masuk rumahsakit. Mungkin sudah ke 5 atau 6 kalinya, dan bahkan beberapa kali dia sempat diantar saudara karena kesakitan parah dimalam hari. Tapi dia selalu sembuh, kembali pulang kerumah, dan kembali tertawa2 lagi. Jadi ada sedikit harapan di hati gue, yang ngerasa bahwa ini juga akan sama seperti lalu-lalu. Bapak akan sembuh, dan pulang lagi, mungkin lebih sehat,


Tapi entah kenapa malam itu, rasanya beda. Walaupun bapak ngga terlihat seperti orang yang kesakitan, dia juga ngga kelihatan mengerti. Walaupun sadar, tapi entah ada dimana.
Dan malam itu, entah apa alasannya, gue memutuskan untuk mengambil foto tangan gue memegang tangan bapak. Mungkin hanya iseng. Entahlah. Tapi foto ini rasanya sering gue lihat sebagai kenang2an.


Keesokan paginya, jam 4 an, Ani telpon, dan bilang bapak kritis. Gue langsung terbirit2 ke RS bareng Peny. Dan kita sampai tepat pada saat bapak telah dinyatakan meninggal. Gue dateng saat mbak2 perawat sedang mencopoti selang2 yang melingkari badan bapak.

Bapak kelihatan kurus, mukanya seperti tidur. Rasanya ngga percaya kalau, walaupun gue teriak2 ditelinganya dia ngga akan bangun. Aneh rasanya.
Keluar dari ruang ICU, mamah lagi bengong di depan pintu. Ani memeluk mamah. Dan mamah sambil bengong bilang " Kalian udah ngga punya bapak lagi...."

----

Sampai pengurusan biaya, surat menyurat administrasi dan lainnya, gue masih berasa melayang dan semuanya ngga nyata. Kelihatannya Ani dan Peny juga masih belum sadar sepenuhnya. Gue baru bener bener bener sadar, adalah ketika di kamar jenazah. Menjemput bapak yang sudah dipakaikan kain kafan.

Saat itulah, gue berasa bener2 lemes....sadar bahwa ini beneran....
Dan saat itulah baru akhirnya gue mulai meneteskan air mata.....

(to be continued)

Monday, February 28, 2011

Tour de Tasikmalaya 3-6 Feb 2011

Setelah sempet direncanain dan dibatalkan bolak balik... Akhirnya disuatu liburan (agak) panjang, jadi deh gw sekeluarga jalan ke Tasikmalaya. Sponsornya, siaplagi kalau bukan teh Riska, preman asli Tasik, yang manis dan baik hati. Karena ke-OK-annya Riska ini, liburan yang tadinya diharapkan cuman jadi libur iseng tanpa harapan apa2, berubah jadi liburan asyik yang bakal diinget2 terus :)
Pagi-pagi buta
Liburan ini kita beramai2, ada Gw plus Indra dan Rangga, ada Noel plus Dewi dan Paska (si bayi kecil nan manis), plus Riska, Eqiw dan Dian. Jadi total ada 7 orang gede plus 2 krucil yang dimasukkan dalam 2 mobil.
Atas saran dari Noel, kita berangkat pagi2 buta, dan janjian di rest area kilometer 19 jam 5 pagi. Tapi, kita semua, memboikot keinginannya Noel dengan dateng baru jam 6-an... hiihihihi....
Anyway, perjalanan pagi itu lancar sekali, ngga macet seperti yang dikuatirkan Noel....
Jam 8 an, kita sampai di rumahmakan Strawberry setelah keluar tol. Tempat makannya asik buat leyeh2 karena pemandangannya indah, plus ada danau2an yang bisa buat naik perahu kecil. Sayangnya pas kita kesini belum buka karena masih kepagian.
pemandangan dari rm strawberry, sawah dan hijauuuu

Setelah puas makan2 dan ngerumpi, kita langsung jalan menuju ke Tasik, kota kesayangannya Riska. Sebelumnya kita sempet mampir ke Rajapolah, sentra industri kerajinan anyaman bambu di Tasik. Awalnya gw ngga terlalu tertarik buat liat2. Di kepala gue berfikir... ah palingan tas2 biasa, nanti kalau dibeli cuman menuh2in rumah. Tapi, ngga tahunya, setelah gue menilik dan mengamati, waow... kerajinannya keren2... Tasnya buatannya rapi, dan manis dan harganya muraaaah. Bayangin tas jinjing cuman seharga 35ribu, tempat laundry besar, seharga 50 ribu... Makanya setelah satu toko, gw memilih duduk nongkrong di emperan sambil main uler2an bareng Rangga. Tiada lain alasannya adalah takut kalap belanja kalau datengin semua toko :)

Rangga n mainan uler2annya...
Rumah diatas Balong

Masuk kota, kita langsung diajak Riska ke rumahnya, yang ada diatas empang (eh apa ya bahasa benernya). Jadi rumahnya berdiri diatas air seperti di rumah makan- rumahmakan sunda. Dan asyiknya juga didepannya juga terhampar sawah yang baru aja dipanen. Banyak bebek lari2an mencari makan di sawah...
Rangga sibuk ngasih makan ikan...
Dirumah Riska ini, gw dan Rangga juga dapet pengalaman baru....mancing!! hehehe... baru sekali ini gw beneran mancing dan dapetin ikan 3 kali berturut2!! bangga deh gue (hehehe). Plus Rangga juga dapat pengalaman baru yang pasti dia ngga bakal lupain! masuk ke kandang burung puyuh, yang baunya luar biasa :) Tapi dia seneng banget dikasih 5 butir telur puyuh oleh ayahnya Riska... Telurnya disimpan baik2 buat direbus pas udah sampai Jakarta...
Setelah makan siang yang mantaff (makasih banget lo Ris, kita dijamu besar2an!! bayangin ada ikan goreng, ikan bakar, ayam goreng, karedok, aneka sambal, tumisan perut ikan.. wuuuh, penuh deh perutku), kita memutuskan untuk jalan ke Galunggung.
Galunggung

Sebagai turis dadakan, gw tadinya ngga ngerti, di galunggung tu mau liat apaaa? kawah? atau pemandangan? apalagi perjalanannya lumayan jauh, plus saat itu hujan derasss banget. Plus lagi, katanya untuk menuju kawah, kita harus naik 620 anak tangga keatas. Enam ratus dua puluh? waow, jumlah yang banyak bukan buat tangga?
Beruntung pas kita sampai, hujan sudah menipis, tinggal gerimis menerpa. Situasi di tempat parkiran Galunggung terasa seperti situasi di puncak. Banyak tukang jagung bakar dan indomie. Makanan yang lezaaat banget buat dimakan dingin2.

620 anak tangga... wuhuuuu
Setelah negosiasi dengan Rangga (bahwa, kalau dia mau ikut naik tangga, ngga ada yang bakal mau gendong, jadi dia harus kuat naik sendiri-- ya iyalah, mana kuat gw gendong 620 tangga, bisa cepet pendeeek:)), kita akhirnya mulai menaiki 620 tangga yang terasa laamaaa sekali. Hebatnya...Rangga yang kita underestime bisa sampai, justru jadi orang pertama yang sampai diatas :) haha ibu yang bangga deh gue (lebih bangga lagi, karena ternyata dari kita semua, cuma dia yang besoknya ngga pegel2 kakinya...:))


Si Rangga hebat diatas tangga

Pemandangan indah yang menyerbu dari atas galunggung
Setelah menyiksa kaki dengan penuh kejahatan, ternyata pemandangan yang menyerbu diatas kawah, benar2 menggantikan pegel2 yang ada!! Kawah luas, dengan danau berwarna hijau, plus pegunungan yang membentang didepan mata... Belum lagi, situasi sehabis mendung yang membuat pemandangan sedikit berkabut dan terasa seperti mimpi... Karena kita adalah rombongan terakhir yang naik, pas kita sampai, diatas sudah sepi... Justru sempurna untuk meresapi keindahan alam (plus meresapi pegal2 di kaki tentunya:)
Mie Tasik

Mantabnya Mie Tasik
Malam itu, sebelum menuju hotel, kita sempat menikmati kuliner Tasik : Mie Tasik. MEnurut gw, untuk ukuran kota kecil, mie ini lumayan mahal, 22 rb seporsi! Tapi rasanya mantap!! Ini bisa dikategorikan dalam kategori mie serius, yang dibuat dengan penuh cinta, hohohoho. Kuahnya mantap, mienya kenyal, plus potongan babat dan bakso. Yummi lah! sepadan dengan harganya!!!
Green Canyon
Besok paginya, setelah kita sempatkan kembali berwisata kuliner di bubur ayam tasik (Ciri khasnya adalah warna buburnya putih, dan berkuah, mirip seperti soto bening dengan nasi kecil2 didalamnya) dan serabi oncom. Kita melanjutkan perjalanan ke Green Canyon dan Batu Karas. Kembali pengetahuan wisata gue yang minim bikin gue ngga ngerti, ini kita mau kemana sih... juauuuuh banget deh... 4 jam perjalanan!!!

di tukang bubur tasik
Setelah sampai ke gerbang Green Canyon, kita ternyata harus menyewa perahu senilai 75rb untuk berlima. Saat ini gue juga heran, kenapa semua orang ganti baju? Soalnya dibayangan gue, green canyon ya kaya danau berwarna hijau...gitu doang...
Dan ternyata oh tenyata... Green Canyon itu, ternyata adalaaaah : sungai di dalam gua!!... Yang pemandangan dan suasananya kereeeen banget!! Kayanya gue pernah liat di tipiiii, tapi ngga inget namanya apa... (ingatan dodol)
Dan kenapa semua ganti baju? karena satu2nya cara untuk menikmati sepenuhnya suasana disana adalah : Berenang di sungai berarus deras itu!! Body rafting!! wuhuuuu
Sungai di Green Canyon, walaupun berarus deras, tapi cukup aman, tentu saja kalau kita bisa berenang dan juga pakai pelampung. Akang pemilik perahu, ternyata juga merupakan guide untuk body rafting. Setelah negosiasi dilakukan ( sekitar 120 rb per perahu-5 orang), kita pun langsung pakai pelampung dan meluncur kesungai.
Sungainya dingin, dan arus dibawah kaki terasa kuat sekali. Bagusnya, karena bentuknya yang didalam gua, maka arusnya berputar saja disitu, jadi kalaupun kita terhanyut, cuman bakalan muter2 aja disana... Pemandangan yang paling keren adalah, kalau kita berenang telentang, memandang tetesan air dari langit2 gua, plus cahaya matahari yang masuk perlahan lewat sedikit ruang diatas gue. Tetesan air terlihat seperti bergerak slow motion, bagus sekali.. Dunia lain!!
Dibanyak titik yang arusnya sangat kuat, akang guide sudah siap dengan tali untuk pegangan para turis. Mereka juga bersedia (dan bahkan menawarkan diri) untuk membawa kamera dalam kantung plastik, dan juga memotret. Full service lah.
Di beberapa area, ada juga gua2 dan danau kecil yang indah, yang untk naiknya harus memanjat ala monyet gunung. Yang paling seru untuk menguji nyali adalah adanya batu besar setinggi sekita 3 m berbentuk jamud di tengah sungai. Iya, batu itu dijadikan lokasi untuk meloncat. Dan gue mencoba!! hihi... sempet dag digdug pas mau loncat, tapi setelah sempet merem, akhirnya byurrrrr!!! Haha, jadi gini toh rasanya lompat 3 meter!! pantatnya saakiiiit :).
Sayangnya ternyata dokumentasi lompat yang dibuat, ngga ada yang berhasil... Hihi, Riska entah kenapa, gagal mendokumentasikan kehebatanku hehehehe...pasti karena terlalu semangat!!
pemandangan indah di green canyon, plus siap2 menguatkan iman, melompat dari atas batu wuhuhuuu
Batu Karas
Selesai dari Green Canyon, dan berganti baju, kitapun meneruskan perjalanan ke Batu Karas. Sebuat Pantai kecil 5 km setelah green canyon. Pantainya sepi, dan sering dijadikan lokasi surfing. Lokasi yang tepat untuk menikmati "the art of nothingness". Disini, beberapa kali kita bertemu dengan penduduk lokal yang menikah dengan turis asing, sehingga banyak anak kecil bermuka bule tapi berbahasa sunda (besarnya bakalan jadi artis :). Ibu Sumiyati, pemilik Batu Karas Sunrise salah satunya, dia menikah dengan seorang turis Australia yang kemudian menetap di Batu Karas dan memiliki penginapan disana.
Batu Karas Sunrise yang kita jadikan tempat menginap termasuk OK. Dengan biaya menginap 415rb/malam (promo price), Selain kamar yang OK, ada juga kolam renang air hangat disana. Woo Rangga langsung menggila berenang sore dan pagi hari di kolam renang hangat itu... Di lokasi lain juga banyak hotel2 yang bagus, salah satunya Javacove, hotel yang di rekomendasikan oleh Natgeo traveller (ada plang infonya)--sayangnya kemarin sedang penuh.


Malamnya, kita sempatkan makan di resto kecil yang menjual aneka masakan hasil laut. Lagi2 pemilik resto ini adalah seorang wanita turis jerman yang menikah dengan penduduk lokal. Agak risih juga sih, yang beres2 meja orang bule (uh inferior banget ya gue!!), pake mindik2 segala :) Masakannya, diluar dugaan ennag!! dan juga murah banget, ngga sampai 200 rb buat makan ber 7, lengkap dengan cumi, udang, sayur, ikan bakar dan ikan saus padang!!

SeaGlide
Sea Glide dan Pecel Tasik
Besok paginya, setelah puas leyeh2, dan berenang. Kitapun siap2 pulang. Sebelum pulang sempat menengok pantai depan JAvacove, dan tertarik oleh ajakan naik SeaGlide. Seaglide adalah perahu karet berbentuk seperti donat untuk 8 orang, yang bakalan ditarik oleh Boat. Dan karena bentuknya yang seimbang, seekstrim apapun gerakan boat, si SeaGlideini ngga akan terbalik!
Berdelapan kita akhirnya naik. Cukup mahal buat naik ini, 50rb/orang. Dan sayang sekali lagi sayang, Rangga kita ajak ke dalam boat. Alhasil, anak kecil ini mengiringi serunya perjalanan di SeaGlide dengan teriakan histerisnya. Huaaaa, aku takut tenggelaaaaammmm!!!!!!

Pasar Ikan Pangandaran
kenyang dirumah makan ibu maryam

Liburan usai sudah, tapi sebelum kembali ke arah tasik dan jakarta, kita menyempatkan untuk berhenti makan siang di pasar ikan pangandaran. Rumah Makan ibu Maryam jadi tujuan kita. Dan sama seperti makanan lezat di Batu Karas, masalan disini juga pantas diacungi jempol. Plus harganya luarbiasa murah!, Makan bertujuh dengan kepiting, ikan bakar, udang, cumi, dan aneka sayur, hanya sekitar 250rb saja...

Pulang
Setelah kenyang, siaplah kita untuk perjalanan kembali ke Jakarta. Sempat mampir sebentar di tasik untuk belanja batik dan mampir di rumah Riska (Makasih oleh2nya yaaa Riska!!), sekitar jam 12 malam, kita sampai di rumah....dengan senyum lebar dan hati puas.
cup! sun sayang buat Paska!!

Makasih buat jalan2 dan liburannya ya Riska! Akhirnya liburan kita jadi jugaaa :))))